Thursday, February 7, 2013
Pentingnya "Marketing" Dalam Perang Pemasaran
Dalam situasi persaingan bisnis yang semakin ketat seperti yang terjadi pada saat ini, tentunya sudah pasti, pihak pihak yang bersaing akan selalu berusaha untuk dapat memenangkan persaingan. Adakalanya persaingan bisnis ini diibaratkan sebagai medan perang. Kedua belah pihak akan saling berhadapan, mengerahkan segala sumber daya yang dimilikinya untuk memenangkan pertempuran. Bila dalam perang biasanya hanya ada dua pihak yang saling berhadapan, namun dalam persaingan bisnis saat ini, pemainnya sungguh banyak, mereka memperebutkan konsumen yang jumlahnya terbatas dan kinipun semakin tidak loyal.
Misalnya saja dalam bisnis rumah makan, restoran siap saja seperi McDonalds, ia bukan saja berhadapan dengan KFC, Texas Fried Chicken atau Burger King, tetapi mungkin saja juga berhadapan dengan Hoka Hoka Bento ataupun Pizza Hut. Mereka bersaing karena mereka berada dalam satu bisnis yang menawarkan pemenuhan kebutuhan terhadap makanan (modern) yang disajikan secara cepat. Namun apabila kita melihat mereka hanya dari sudut pandang bisnis rumah makan, maka bisa jadi pesaing/kompetitor mereka akan bertambah banyak. Sebut saja Ayam goreng Suharti atau Nasi Uduk Bang Jali juga akan menjadi pesaing mereka dalam upaya untuk memenuhi rasa lapar konsumen.
Semakin ketatnya persaingan, tentunya semakin memerlukan kiat kiat tertentu, agar kita dapat bertahan dan memenangkan persaingan. Berapa banyak bisnis yang mati, begitu muncul pesaing pesaing baru. Namu demikian ada juga bisnis yang mampu bertahan hingga ratusan tahun. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan apabila kita berada dalam persaingan bisnis semacam ini.
Dalam Marketing atau Ilmu Pemasaran, disebutkan ada 4 faktor penting yang harus dikelola dengan baik agar produk/jasa kita dapat bertahan dalam persaingan. Ke 4 Faktor ini sering disebut sebagai 4P, yaitu
1. Product (Segala hal yang berkaitan dengan Produk/Jasa yang ditawarkan kepada konsumen...kita setidaknya harus mampu memberikan solusi terhadap kebutuhan konsumen dan menunjukkan bahwa produk kita memiliki keunggulan terhadap kompetitor, dsb)
2. Price (Sesuaikan harga dengan target market kita)
3. Place (Distribusikan di tempat yang tepat/strategis)
4. Promotion (Lakukan promosi dengan tepat, sehingga konsumen mengenal)
Dengan memperhatikan faktor faktor tersbut, setidaknya kita akan selalu berorientasi pada pasar, kompetitor dan juga konsumen. Dengan semakin banyaknya pemain di suatu bidang, akan semakin banyak pilihan buat konsumen, dan tentunya hanya yang dipilih dan dicintai konsumenlah yang dapat bertahan dan tumbuh.
Sudah saatnya kita mengelola bisnis dengan ilmu...mari kita gunakan ilmu pemasaran untuk mempertahankan dan mengembangkan bisnis kita !
Serbuan Made in Korea di Indonesia
Dalam beberapa tahun belakangan semakin banyak brand dari Korea yang dapat ditemukan di pasar Indonesia. Sebagai negara Asia, nampaknya Korea juga tidak mau ketinggalan dibandingkan saudara yang lain yaitu Jepang dan Cina yang telah lama mengekspor barang barangnya ke seantero dunia. Beberapa tahun lalu mungkin banyak yang memicingkan mata terhadap produk Korea. Namun hanya dalam beberapa tahun, Korea sanggup membuktikan bahwa mereka sejajar dengan Jepang, AS dan juga negara negara eropa. Padahal di Era 70an, Korea masih dikenal sebagai negeri tempat OEM produk produk Jepang.
Perjalanan panjang sebuan produk Korea di Indonesia dimulai sejak dua puluhan tahun silam. Di tahun 90-an, kala itu beberapa barang elektronik Korea suadh masuk ke Indonesia. Kita mungkin masih ingat bagaimana rice cooker merek Cuckoo dan Yong - Ma dengan modelnya yang inovatif berhasil menjadi trend dan idaman para ibu rumah tangga. Kala itu saat rice cooker memiliki bentuk yang formal, cuckoo hadir dengan warna warna cerah dan stylish dan juga menawarkan fungsi warmer. Sebelumnya brand MIWON (bumbu penyedap rasa) sudah cukup dikenal luas di Indonesia.
Di akhir era ini pula dua perusahaan otomotif milik anak anak (mantan) presiden Soeharto memulai proyek mobil nasional (mobnas) dengan mengimpor mobil mobil Korea dan menjadikannya sebagai merek nasional. Kita tentunya masih ingat mobil Bimantara Cakra yang merupakan siluman dari merek Hyundai dan juga Timor yang sebenarnya merupakan produk KIA.
Teknologi Korea pada dasarnya merupakan teknologi unggulan. Di era 2000an, produk produk peralatan rumah tangga dengan merek Advance juga terlihat aktif menyambangi berbagai mall untuk melakukan pameran agar dikenal konsumen. Saat itu advance sudah menawarkan berbagai unit water purifier dengan teknologi Reverse Osmosis yang konon digunakan NASA dalam misi pesawat ulang alik. Meski merek ini tidak secara terang terangan menyebutkan produk Korea, namun bila kita lihat detil maka akan terlihat bahwa mereka merupakan barang import dari Korea.
Di bidang elektronik, LG dan Samsung mampu juga menjadi merek alternatif bagi dominasi merek Jepang. Perlahan lahan Kulkas, AC dan TV menjadadi alternatif bagi merek SONY, SHARP ataupun PANASONIC. Bahkan kini di beberapa mall di Jakarta, Samsung Smart TV - TV dengan kemampuan internet mampu menjadi pusat perhatian konsumen yang berkunjung ke gerai gerai elektronik tersebut.
Di kategori handphone, brand Samsung sebenarnya disaat itu juga sudah tampil dimuka dengan teknologi yang canggih . Namun sayangnya saat itu, Samsung dikenal sebagai HP mahal yang kurang peminatnya, sehingga nilai jual kembali akan sangat rendah. Tentu kita masih ingat HP Samsung tipe SGH yang mampu menjadi projector. Atau tipe lainnya yang memiliki kemampuan untuk dual band GSM dan CDMA. Kini tak lebih dari 10 tahun kemudian, merek Samsung bahkan mampu menjadi brand impian. Sebagai salah satu pendukung utama OS Android, nampaknya Samsung juga sangat didukung oleh Google. Di beberapa negara bahkan Samsung tampil sebagai penantang Iphone sang innovator. Di Indonesia sendiri, keperkasaan Samsung juga terlihat. Di gerai semacam Eraphone, Global Teleshop ataupun Sentraponsel, kita akan melihat bagaimana dominannya branding Samsung.
Di kategori tablet dan smartphone android premium, nampaknya brand ini menjadi market leader.
Di bidang budayapun, Korea juga tak mau ketinggalan dengan mengeksport budaya K-Pop. Artis artis korea merajalela, baik tampil di dunia maya ataupun di dunia nyata. Kita lihat bagaimana remaja Jakarta begitu tergila gila dengan lagu lagu korea dan bahklan dandanan ala artis Korea. Bahkan sudah banyak artis korea yang datang ke Jakarta dan tiketnya hampir selalu sold out meski dijual dengan harga tinggi. Lagu fenomenal Oppa Gangnam Style pun juga sempat menghebohkan dunia.
Film drama Korea juga sangat diminati oleh ibu ibu rumah tangga kita, baik yang ditayangkan via TV Terestrial ataupun TV Satelit.
Di bidang makanan, Es Krim Korea juga cukup menonjol, meski dijual di tempat tertentu, es krim ini cukup memiliki konsumen yang loyal. Nama yang cukup menonjol adalah Binggrae. Es kacang merah yang dinamakan bungeo ssamankho memang unik dan lezat. Demikian juga dengan Goldfish Ice cream. Saat inipun resto siap saji (QSR) Lotteria juga mulai melakukan ekspansi di beberapa kota di Indonesia. Resto yang menawarkan fried chicken dan burger ini nampaknya tak mau kalau untuk merasakan hiruk pikuk pasar QSR di Indonesia.
Satu hal lagi yang tak boleh dilupakan adalah eksisnya Lotte Mart, sebuah gerai hypermarket yang di Indonesia menempati lahan eks Makro. Perusahaan yang didirikan pada tahun 1984 ini, kini telah berkekspansi ke beberapa negara seperti China, India, Vietnam, Rusia dan Indonesia !
Di bidang kosmetik dan kecantikan, terdengar kabar bila salah satu perusahaan di bidang fashion Indonesia, akan mengimpor 2 brand top Korea untuk dipasarkan di Indonesia, yaitu Belif dan Nature Republik.
Yang jelas apa yang kami sebutkan diatas tak terjadi dalam semalam. Semua butuh proses, kerja keras dan kerjasama antara semua pihak. Pengusaha, masyarakat dan pemerintah Korea semua bahu bahu untuk menciptakan kejayaan negeri. Bagaimana dengan Indonesia ? Apakah kita mau untuk maju ? apakah kita juga mampu untuk mengikuti kesuksesan Bangsa Korea ? Kita tunggu saja dalam 10 tahun kedepan, semoga pemimpin bangsa Indonesia mampu mensinergikan segala potensi yang ada untuk kemajuan negeri.
Perjalanan panjang sebuan produk Korea di Indonesia dimulai sejak dua puluhan tahun silam. Di tahun 90-an, kala itu beberapa barang elektronik Korea suadh masuk ke Indonesia. Kita mungkin masih ingat bagaimana rice cooker merek Cuckoo dan Yong - Ma dengan modelnya yang inovatif berhasil menjadi trend dan idaman para ibu rumah tangga. Kala itu saat rice cooker memiliki bentuk yang formal, cuckoo hadir dengan warna warna cerah dan stylish dan juga menawarkan fungsi warmer. Sebelumnya brand MIWON (bumbu penyedap rasa) sudah cukup dikenal luas di Indonesia.
Di akhir era ini pula dua perusahaan otomotif milik anak anak (mantan) presiden Soeharto memulai proyek mobil nasional (mobnas) dengan mengimpor mobil mobil Korea dan menjadikannya sebagai merek nasional. Kita tentunya masih ingat mobil Bimantara Cakra yang merupakan siluman dari merek Hyundai dan juga Timor yang sebenarnya merupakan produk KIA.
Teknologi Korea pada dasarnya merupakan teknologi unggulan. Di era 2000an, produk produk peralatan rumah tangga dengan merek Advance juga terlihat aktif menyambangi berbagai mall untuk melakukan pameran agar dikenal konsumen. Saat itu advance sudah menawarkan berbagai unit water purifier dengan teknologi Reverse Osmosis yang konon digunakan NASA dalam misi pesawat ulang alik. Meski merek ini tidak secara terang terangan menyebutkan produk Korea, namun bila kita lihat detil maka akan terlihat bahwa mereka merupakan barang import dari Korea.
Di bidang elektronik, LG dan Samsung mampu juga menjadi merek alternatif bagi dominasi merek Jepang. Perlahan lahan Kulkas, AC dan TV menjadadi alternatif bagi merek SONY, SHARP ataupun PANASONIC. Bahkan kini di beberapa mall di Jakarta, Samsung Smart TV - TV dengan kemampuan internet mampu menjadi pusat perhatian konsumen yang berkunjung ke gerai gerai elektronik tersebut.
Di kategori handphone, brand Samsung sebenarnya disaat itu juga sudah tampil dimuka dengan teknologi yang canggih . Namun sayangnya saat itu, Samsung dikenal sebagai HP mahal yang kurang peminatnya, sehingga nilai jual kembali akan sangat rendah. Tentu kita masih ingat HP Samsung tipe SGH yang mampu menjadi projector. Atau tipe lainnya yang memiliki kemampuan untuk dual band GSM dan CDMA. Kini tak lebih dari 10 tahun kemudian, merek Samsung bahkan mampu menjadi brand impian. Sebagai salah satu pendukung utama OS Android, nampaknya Samsung juga sangat didukung oleh Google. Di beberapa negara bahkan Samsung tampil sebagai penantang Iphone sang innovator. Di Indonesia sendiri, keperkasaan Samsung juga terlihat. Di gerai semacam Eraphone, Global Teleshop ataupun Sentraponsel, kita akan melihat bagaimana dominannya branding Samsung.
Di kategori tablet dan smartphone android premium, nampaknya brand ini menjadi market leader.
Di bidang budayapun, Korea juga tak mau ketinggalan dengan mengeksport budaya K-Pop. Artis artis korea merajalela, baik tampil di dunia maya ataupun di dunia nyata. Kita lihat bagaimana remaja Jakarta begitu tergila gila dengan lagu lagu korea dan bahklan dandanan ala artis Korea. Bahkan sudah banyak artis korea yang datang ke Jakarta dan tiketnya hampir selalu sold out meski dijual dengan harga tinggi. Lagu fenomenal Oppa Gangnam Style pun juga sempat menghebohkan dunia.
Film drama Korea juga sangat diminati oleh ibu ibu rumah tangga kita, baik yang ditayangkan via TV Terestrial ataupun TV Satelit.
Di bidang makanan, Es Krim Korea juga cukup menonjol, meski dijual di tempat tertentu, es krim ini cukup memiliki konsumen yang loyal. Nama yang cukup menonjol adalah Binggrae. Es kacang merah yang dinamakan bungeo ssamankho memang unik dan lezat. Demikian juga dengan Goldfish Ice cream. Saat inipun resto siap saji (QSR) Lotteria juga mulai melakukan ekspansi di beberapa kota di Indonesia. Resto yang menawarkan fried chicken dan burger ini nampaknya tak mau kalau untuk merasakan hiruk pikuk pasar QSR di Indonesia.
Satu hal lagi yang tak boleh dilupakan adalah eksisnya Lotte Mart, sebuah gerai hypermarket yang di Indonesia menempati lahan eks Makro. Perusahaan yang didirikan pada tahun 1984 ini, kini telah berkekspansi ke beberapa negara seperti China, India, Vietnam, Rusia dan Indonesia !
Di bidang kosmetik dan kecantikan, terdengar kabar bila salah satu perusahaan di bidang fashion Indonesia, akan mengimpor 2 brand top Korea untuk dipasarkan di Indonesia, yaitu Belif dan Nature Republik.
Yang jelas apa yang kami sebutkan diatas tak terjadi dalam semalam. Semua butuh proses, kerja keras dan kerjasama antara semua pihak. Pengusaha, masyarakat dan pemerintah Korea semua bahu bahu untuk menciptakan kejayaan negeri. Bagaimana dengan Indonesia ? Apakah kita mau untuk maju ? apakah kita juga mampu untuk mengikuti kesuksesan Bangsa Korea ? Kita tunggu saja dalam 10 tahun kedepan, semoga pemimpin bangsa Indonesia mampu mensinergikan segala potensi yang ada untuk kemajuan negeri.
Saturday, January 26, 2013
Merek dan Manfaatnya Dalam Pemasaran
Dalam kehidupan sehari hari kita saat ini, hampir selalu kita dikelilingi oleh berbagai merek (brand). Lihat saja, kita tidur diatas kasur bermerk. Saat kita bangun dan mandi pagi, kita gunakan sabun bermerk Lux ataupun Nuvo. Menggosok gigi dengan pasta gigi Pepsodent atau Enzim. Keramas dengan Shampoo Sunsilk atau Pantene. Baju yang kita kenakan juga memiliki merek Batik Keris atau Kenzo. Saat sarapan kita menikmati secangkir teh Sari Wangi atau kopi Nescae, sambil makan roti Sari Roti atau roti produksi rumahan bermerek Sally roti. Saat berpergian kita gunakan kendaraan entah motor Suzuki ataupun mobil Toyota Innova. Diperjalananpun kita juga melihat papan iklan dengen berbagai merek. Saat haus dijalan, tak lupa kita beli minuman Teh Botol ataupun merasakan segarnya Tekita.
Mengapa hal ini dapat terjadi ? Karena saat ini hampir semua barang yang diproduksi oleh suatu produsen pasti memiliki merek. Bahkan barang barang komoditaspun seperti gula, beras, dan garam-pun, saat ini juga telah diberi merek.
Apakah merek (brand) itu ? Menurut, Philip Kottler,seorang pakar ilmu pemasaran modern, Merek (brand) adalah sebuah nama, istilah , lambang, atau rancangan (atau kombinasi dari semuanya)yang dimaksudkan untuk menyatakan barang atau jasa dari suatu penjual dan untuk membedakan dari para pesaingnya. Biasanya merek yang kiota kenal berupa suatu logo beserta perangkat perangkatnya (yang berupa tulisan, warna, bentuk dsb)
Dalam pemasaran, merek memiliki kedudukan yang sangat penting. Dengan merek konsumen dapat membedakan antara suatu produk dengan produk lainnya. Biasanya konsumen akan membeli sesuatu yang telah mereka kenal sebelumnya. Merek yang terkenal akan cenderung untuk dipilih oleh konsumen, karena mereka merasa aman dengan sesuatu yang mereka kenal. Melalui merek, konsumen dapat dengan mudah dapat membedakan kesan kualitas antara suatu produk dengan produk lainnya. Selain itu, Merek yang kuat akan memberikan rasa percaya diri bagi konsumen dalam mengambil keputusan saat melakukan pembelian.
Sesungguhnya perang pemasaran merupakan perang antar merek ! Pengusaha menyadari bahwa merek merupakan aset perusahaan yang sangat bernilai. Bahkan mereka juga semakin sadar bahwa salah satu cara untuk menguasai pasar adalah dengan memiliki merek yang dominan di pasar.
Stephen King, seorang praktisi pemasaran dari Inggris menyatakan bahwa produk adalah sesuatu yang dibuat di pabrik, sedangkan merek adalah sesuatu yang dibeli konsumen. Produk bisa ditiru kompetitor sedangkan merek itu unik. Produk bisa dengan cepat ketinggalan zaman, sedangkan merek yang berhasil tak terhingga masanya.
Kutipan diatas nampaknya benar sekali. Coba kita lihat umur Coca Cola sudah lebih dari 100 tahun sejak pertama kali diluncurkan ke pasar. Sabun Ivory diluncurkan ke pasar tahun 1881. Di Indonesia sendiri banyak produk yang umurnya sudah lebih dari seperempat abad, misalnya Teh Botol Sosro, SuperMi, Sido Muncul, dsb. Mereka tetap eksis, meskipun banyak pemain lain yang memasuki kategori produk yang sama.
Di Indonesia sendiri banyak juga merek yang mati atau redup dari pasaran. misalnya saja Green Spot dan 7UP yang di era 70an sangat populer sebagai minuman ringan, sekarang akan sangat sulit untuk ditemukan. Contoh lainnya adalah Salam Mie ataupun mie selera rakyat di kategori mi instant.
Nah agar merek dapat bertahan dan dapat beradaptasi dengan perubahan, merek harus dirawat dan memerlukan komitmen dari manajemen puncak. Membangun merek (brand building) bukanlah pekerjaan mudah dan tentunya juga memerlukan sumber daya memadai (baik berupa tim yang mengelola, strategi maupun anggaran promosi). Membangun dan memelihara brand juga memerlukan kesiapan untuk berpikiran jangka panjang dan mengesampingkan tujuan jangaka pendek. Karena ada kalanya aktifitas yang mengejar profit jangka pendek semata secara tidak langsung dapat menghancurkan strategi jangka panjang merek yang bersangkutan.
Untuk itu, jagalah merek anda. Rencanakan merek anda (brand plan) dengan sebaik baiknya, agar merek anda dapat menjadi pundi pundi uang anda secara berkesinambungan.
Kiat bagaimana membuat merek dan bagaimana membangun merek akan disampaikan dalam tulisan kolom berikutnya.
Mengapa hal ini dapat terjadi ? Karena saat ini hampir semua barang yang diproduksi oleh suatu produsen pasti memiliki merek. Bahkan barang barang komoditaspun seperti gula, beras, dan garam-pun, saat ini juga telah diberi merek.
Apakah merek (brand) itu ? Menurut, Philip Kottler,seorang pakar ilmu pemasaran modern, Merek (brand) adalah sebuah nama, istilah , lambang, atau rancangan (atau kombinasi dari semuanya)yang dimaksudkan untuk menyatakan barang atau jasa dari suatu penjual dan untuk membedakan dari para pesaingnya. Biasanya merek yang kiota kenal berupa suatu logo beserta perangkat perangkatnya (yang berupa tulisan, warna, bentuk dsb)
Dalam pemasaran, merek memiliki kedudukan yang sangat penting. Dengan merek konsumen dapat membedakan antara suatu produk dengan produk lainnya. Biasanya konsumen akan membeli sesuatu yang telah mereka kenal sebelumnya. Merek yang terkenal akan cenderung untuk dipilih oleh konsumen, karena mereka merasa aman dengan sesuatu yang mereka kenal. Melalui merek, konsumen dapat dengan mudah dapat membedakan kesan kualitas antara suatu produk dengan produk lainnya. Selain itu, Merek yang kuat akan memberikan rasa percaya diri bagi konsumen dalam mengambil keputusan saat melakukan pembelian.
Sesungguhnya perang pemasaran merupakan perang antar merek ! Pengusaha menyadari bahwa merek merupakan aset perusahaan yang sangat bernilai. Bahkan mereka juga semakin sadar bahwa salah satu cara untuk menguasai pasar adalah dengan memiliki merek yang dominan di pasar.
Stephen King, seorang praktisi pemasaran dari Inggris menyatakan bahwa produk adalah sesuatu yang dibuat di pabrik, sedangkan merek adalah sesuatu yang dibeli konsumen. Produk bisa ditiru kompetitor sedangkan merek itu unik. Produk bisa dengan cepat ketinggalan zaman, sedangkan merek yang berhasil tak terhingga masanya.
Kutipan diatas nampaknya benar sekali. Coba kita lihat umur Coca Cola sudah lebih dari 100 tahun sejak pertama kali diluncurkan ke pasar. Sabun Ivory diluncurkan ke pasar tahun 1881. Di Indonesia sendiri banyak produk yang umurnya sudah lebih dari seperempat abad, misalnya Teh Botol Sosro, SuperMi, Sido Muncul, dsb. Mereka tetap eksis, meskipun banyak pemain lain yang memasuki kategori produk yang sama.
Di Indonesia sendiri banyak juga merek yang mati atau redup dari pasaran. misalnya saja Green Spot dan 7UP yang di era 70an sangat populer sebagai minuman ringan, sekarang akan sangat sulit untuk ditemukan. Contoh lainnya adalah Salam Mie ataupun mie selera rakyat di kategori mi instant.
Nah agar merek dapat bertahan dan dapat beradaptasi dengan perubahan, merek harus dirawat dan memerlukan komitmen dari manajemen puncak. Membangun merek (brand building) bukanlah pekerjaan mudah dan tentunya juga memerlukan sumber daya memadai (baik berupa tim yang mengelola, strategi maupun anggaran promosi). Membangun dan memelihara brand juga memerlukan kesiapan untuk berpikiran jangka panjang dan mengesampingkan tujuan jangaka pendek. Karena ada kalanya aktifitas yang mengejar profit jangka pendek semata secara tidak langsung dapat menghancurkan strategi jangka panjang merek yang bersangkutan.
Untuk itu, jagalah merek anda. Rencanakan merek anda (brand plan) dengan sebaik baiknya, agar merek anda dapat menjadi pundi pundi uang anda secara berkesinambungan.
Kiat bagaimana membuat merek dan bagaimana membangun merek akan disampaikan dalam tulisan kolom berikutnya.
Peranan Harga Dalam Perang Pemasaran
Komponen harga merupakan salah satu komponen penting dalam bauran pemasaran (marketing mix).Menentukan harga suatu produk atau jasa bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Salah menentukan harga akan berakibat fatal. Banyak usaha yang gagal karena pihak manajemen salah dalam menentukan harga yang pas bagi suatu barang atau jasanya.
Harga memiliki keterkaitan dengan berbagai hal, misalnya harga berkaitan erat dengan besaran profit (keuntungan) yang ingin didapatkan oleh pengusaha. Harga juga berkaitan dengan besaran "pengorbanan" yang harus dibayarkan konsumen/customer untuk mendapatkan suatu barang atau jasa.
Tidak semua barang atau jasa dengan harga Mahal, gagal dipasar. Begitu pula dengan barang yang dijual dengan harga murah, juga belum tentu dapat laris manis dipasaran.
Seringkali harga berkaitan erat dengan persepsi konsumen terhadap barang atau jasa yang bersangkutan.
Untuk itu sebelum menentukan strategi harga, pihak pengusaha harus sudah menentukan strategi Segmentasi - Targeting dan Positioning produk atau jasanya.
Harga suatu Barang atau Jasa harus relevan bagi target market barang atau jasa tersebut. Barang yang ditujukan bagi pasar kelas atas biasanya justru cenderung untuk memilih produk dengan harga yang relatif mahal ketimbang pasar kelas menengah bawah.
Tidaklah heran bilamana Mobil BMW, Mercedez, Alphard, meskipun sangat mahal tetapi tetap diminati bagi kalangan atas.
Sebaliknya bila pengusaha sudah menentukan ingin membidik kelas bawah, maka tentunya ia harus menyesuaikan harganya dengan targetnya tersebut, karena kelas bawah biasanya sangat sensitif terhadap harga. Adakalanya konsumen kelas bawah dapat beralih ke kompetitor karena menawarkan harga yang lebih murah. Perbedaan harga yang hanya sekitar Rp. 250 atau Rp. 500 cukup dapat mempengaruhi konsumen untuk pindah merek !
Contoh gamblang dapat kita lihat disekeliling kita. Bagaimana persepsi konsumen mempengaruhi pola pembelian terhadap suatu produk.
Misalnya dalam bisnis minuman di kaki lima, saat ini pasar minuman botol turun dengan drastis, karena kehadiran minuman cup yang menawarkan harga yang relatif lebih murah ketimbang minuman botol. Di dalam kategori minuman seolah terdapat klasifikasi dari konsumen berdasarkan kemasan. Misalnya saja minuman dalam kemasan cup dijual dengan harga tertendah, maksimal Rp. 1000, sedangkan diatasnya ada botol gelas (glass bottle) dengan kisaran harga sekitar Rp 3000an. Untuk kalangan atas seolah tersedia kemasan plastik PET dan karton tetra. Di INdustri minuman, contoh menarik dari strategi harga dapat kita lihat pada apa yang dilakukan oleh AJE Cola yang mana menjual produk BIG Cola minuman karbonasi dengan harga yang relatif murah dibanding kompetitor. Dengan rasa yang bagus dan harga murah, BIG nampaknya cukup sukses memasarkan produknya di Jabodetabek. DIstribusinya saat ini semakin luas.
Contoh lain misalnya sebuah ayam goreng yang dijual di McDonalds akan relatif lebih mahal ketimbang ayam goreng yang dijual di sebuah warung makan Ayam Goreng Tradisional yang tak bermerk. Konsumen yang menjadi pelanggan McD tak akan keberatan dengan perbedaan harga tersebut, dikarenakan mereka menganggap McD sebagai gerai makan internasional yang tentunya memiliki kualitas tertentu. Sebaliknya bila harga sebuah ayam goreng di warung makan ayam goreng tradisional yang tak bermerk itu dijual melampaui harga McD, maka konsumen akan protes dan biasanya mereka akan mengatakan, Gila harganya sama dengan harga McD....mending makan di McD!
Produk produk yang yang dikenal konsumen, misalnya karena sering beriklan atau sering melakukan promosi biasanya memiliki kesempatan untuk dijual lebih mahal ketimbang merek yang tidak dikenal, meskipun secara fisik memiliki kesamaan satu sama lainnya. Contoh yang menarik adalah antara Xenia Vs Avanza, Terios Vs Rush, meskipun secara fisik dan mesin hampir sama namun harga jual produk keluaran Toyota jauh diatas Daihatsu.
Nah semoga artikel ini dapat menginspirasi anda dalam menentukan harga produk atau jasa anda.
Harga memiliki keterkaitan dengan berbagai hal, misalnya harga berkaitan erat dengan besaran profit (keuntungan) yang ingin didapatkan oleh pengusaha. Harga juga berkaitan dengan besaran "pengorbanan" yang harus dibayarkan konsumen/customer untuk mendapatkan suatu barang atau jasa.
Tidak semua barang atau jasa dengan harga Mahal, gagal dipasar. Begitu pula dengan barang yang dijual dengan harga murah, juga belum tentu dapat laris manis dipasaran.
Seringkali harga berkaitan erat dengan persepsi konsumen terhadap barang atau jasa yang bersangkutan.
Untuk itu sebelum menentukan strategi harga, pihak pengusaha harus sudah menentukan strategi Segmentasi - Targeting dan Positioning produk atau jasanya.
Harga suatu Barang atau Jasa harus relevan bagi target market barang atau jasa tersebut. Barang yang ditujukan bagi pasar kelas atas biasanya justru cenderung untuk memilih produk dengan harga yang relatif mahal ketimbang pasar kelas menengah bawah.
Tidaklah heran bilamana Mobil BMW, Mercedez, Alphard, meskipun sangat mahal tetapi tetap diminati bagi kalangan atas.
Sebaliknya bila pengusaha sudah menentukan ingin membidik kelas bawah, maka tentunya ia harus menyesuaikan harganya dengan targetnya tersebut, karena kelas bawah biasanya sangat sensitif terhadap harga. Adakalanya konsumen kelas bawah dapat beralih ke kompetitor karena menawarkan harga yang lebih murah. Perbedaan harga yang hanya sekitar Rp. 250 atau Rp. 500 cukup dapat mempengaruhi konsumen untuk pindah merek !
Contoh gamblang dapat kita lihat disekeliling kita. Bagaimana persepsi konsumen mempengaruhi pola pembelian terhadap suatu produk.
Misalnya dalam bisnis minuman di kaki lima, saat ini pasar minuman botol turun dengan drastis, karena kehadiran minuman cup yang menawarkan harga yang relatif lebih murah ketimbang minuman botol. Di dalam kategori minuman seolah terdapat klasifikasi dari konsumen berdasarkan kemasan. Misalnya saja minuman dalam kemasan cup dijual dengan harga tertendah, maksimal Rp. 1000, sedangkan diatasnya ada botol gelas (glass bottle) dengan kisaran harga sekitar Rp 3000an. Untuk kalangan atas seolah tersedia kemasan plastik PET dan karton tetra. Di INdustri minuman, contoh menarik dari strategi harga dapat kita lihat pada apa yang dilakukan oleh AJE Cola yang mana menjual produk BIG Cola minuman karbonasi dengan harga yang relatif murah dibanding kompetitor. Dengan rasa yang bagus dan harga murah, BIG nampaknya cukup sukses memasarkan produknya di Jabodetabek. DIstribusinya saat ini semakin luas.
Contoh lain misalnya sebuah ayam goreng yang dijual di McDonalds akan relatif lebih mahal ketimbang ayam goreng yang dijual di sebuah warung makan Ayam Goreng Tradisional yang tak bermerk. Konsumen yang menjadi pelanggan McD tak akan keberatan dengan perbedaan harga tersebut, dikarenakan mereka menganggap McD sebagai gerai makan internasional yang tentunya memiliki kualitas tertentu. Sebaliknya bila harga sebuah ayam goreng di warung makan ayam goreng tradisional yang tak bermerk itu dijual melampaui harga McD, maka konsumen akan protes dan biasanya mereka akan mengatakan, Gila harganya sama dengan harga McD....mending makan di McD!
Produk produk yang yang dikenal konsumen, misalnya karena sering beriklan atau sering melakukan promosi biasanya memiliki kesempatan untuk dijual lebih mahal ketimbang merek yang tidak dikenal, meskipun secara fisik memiliki kesamaan satu sama lainnya. Contoh yang menarik adalah antara Xenia Vs Avanza, Terios Vs Rush, meskipun secara fisik dan mesin hampir sama namun harga jual produk keluaran Toyota jauh diatas Daihatsu.
Nah semoga artikel ini dapat menginspirasi anda dalam menentukan harga produk atau jasa anda.
Tuesday, January 15, 2013
Peranan Tenaga Penjual di Era Kompetisi Dahsyat
Dalam kehidupan sehari hari, kehadiran tenaga penjual disekeliling kita sungguh bukan hal yang asing lagi. Misalnya setiap pagi terdengar alunan jingle salah satu brand roti nasional dari gerobak yang dikayuh oleh tenaga penjualnya. Juga teriakan para penjual sayur, bubur ayam hingga bocah penjual koran. Saat kita berangkat ke kantor, di sepanjang jalan kita juga akan menemukan para penjual majalah, minuman ringan hingga lap pembersih kaca made in china di jalanan. Kita juga seringkali menerima telpon dari para financial advisor dari perusahaan asuransi atau telemarketing dari kartu kredit. Bahkan saat di mall pun kita akan menemukan begitu banyak dari mereka yang berusaha mendekati kita untuk mencoba menawarkan produknya. Mulai dari SPG resto siap saji yang memberikan flyer di depan pintu masuk mall, beauty advisor yang menawarkan sample parfum hingga para sales executive dari perusahaan otomotif ternama, semuanya berupaya mendekati konsumen/kastemer agar dapat menawarkan produk dagangannya. Bahkan sesungguhnya para penjaga toko adalah juga para penjaga tenaga penjual yang menjual barang dari berbagai merek di tokonya.
Intinya, tenaga penjual merupakan perpanjangan tangan dari produsen/distributor yang ditugaskan untuk bertemu dan melayani konsumen. Tenaga penjual, apapun namanya : salesman, sales promotion girl, telemarketer, sales executive ataupun financial advisor memainkan peranan yang penting dalam perusahaan. Mereka merupakan ujung tombak perusahaan. Kalau mereka berhasil menjual maka perusahaan dapat berjalan dengan baik. Bila mereka gagal maka cepat atau lambat dapat mempengaruhi keberlangsungan perusahaan yang bersangkutan.
Berdasarkan pengamatan penulis, banyak sekali tenaga penjual yang kurang dibekali cukup pengetahuan oleh perusahaan tempatnya bertugas. Mereka hanya diberikan training singkat yang isinya lebih ke hal hal administratif dan dengan satu perintah yang sangat jelas : Jual sebanyak banyak produk.
Dilapangan, sering terjadi friksi antara para tenaga penjual ini dengan konsumen karena mereka tidak mengetahui cara berkomunikasi dengan konsumen secara efektif. Ada pula diantara mereka yang menawarkan produknya dengan sedikit memaksa. Tidak jarang pula ada yang tidak memahami spesifikasi produknya secara detil. Bahkan tidak jarang pula terdapat salesman yang mengakui kurang yakin dengan produk yang dijualnya begitu dicecar habis oleh calon konsumen yang bertipe kritis
Meskipun perusahaan menyadari pentingnya kualitas tenaga penjual, namun sebagian besar masih menganggap sepele peranan mereka. Pada perusahaan multinasional dan perusahaan nasional yang berskala besar, fungsi tenaga penjual telah ditangani secara serius. Pelatihan pelatihan yang bersifat softskill seperti pola pikir dan motivasional, serta hardskill seperti tekhnik menjual dan product knowledge juga telah sering dilakukan.
Tenaga penjual yang sukses adalah bukan hanya tenaga penjual yang mampu menjual barang dalam kuantitas yang besar, tetapi juga mampu menjalin hubungan dan komunikasi yang berkualitas dengan pelanggannya. Seringkali keputusan membeli konsumen dilakukan bukan karena pertimbangan rasional tetapi lebih karena pertimbangan emosional, termasuk kesan yang baik dari si tenaga penjual. Demikian pula sebaliknya. Bahkan penulis sempat menemui beberapa kasus perpindahan customer dari satu brand ke brand lainnya, hanya karena si salesman yang bersangkutan pindah pekerjaan.
Ditengah persaingan yang semakin ketat seperti saat ini, sudah semestinya pihak perusahaan dan tenaga penjual itu sendiri menyadari peranan tenaga penjual sangatlah luar biasa pentingnya. Tenaga penjual bukan lagi merupakan suatu sosok yang inferior yang hanya menawarkan suatu barang kepada pelanggan yang lebih superior, melainkan berperan sebagai "problem solver" yang menawarkan sesuatu yang bermanfaat bagi konsumen.
Nah sudahkah mental seperti ini ada di diri anda dan perusahaan anda ?
Intinya, tenaga penjual merupakan perpanjangan tangan dari produsen/distributor yang ditugaskan untuk bertemu dan melayani konsumen. Tenaga penjual, apapun namanya : salesman, sales promotion girl, telemarketer, sales executive ataupun financial advisor memainkan peranan yang penting dalam perusahaan. Mereka merupakan ujung tombak perusahaan. Kalau mereka berhasil menjual maka perusahaan dapat berjalan dengan baik. Bila mereka gagal maka cepat atau lambat dapat mempengaruhi keberlangsungan perusahaan yang bersangkutan.
Berdasarkan pengamatan penulis, banyak sekali tenaga penjual yang kurang dibekali cukup pengetahuan oleh perusahaan tempatnya bertugas. Mereka hanya diberikan training singkat yang isinya lebih ke hal hal administratif dan dengan satu perintah yang sangat jelas : Jual sebanyak banyak produk.
Dilapangan, sering terjadi friksi antara para tenaga penjual ini dengan konsumen karena mereka tidak mengetahui cara berkomunikasi dengan konsumen secara efektif. Ada pula diantara mereka yang menawarkan produknya dengan sedikit memaksa. Tidak jarang pula ada yang tidak memahami spesifikasi produknya secara detil. Bahkan tidak jarang pula terdapat salesman yang mengakui kurang yakin dengan produk yang dijualnya begitu dicecar habis oleh calon konsumen yang bertipe kritis
Meskipun perusahaan menyadari pentingnya kualitas tenaga penjual, namun sebagian besar masih menganggap sepele peranan mereka. Pada perusahaan multinasional dan perusahaan nasional yang berskala besar, fungsi tenaga penjual telah ditangani secara serius. Pelatihan pelatihan yang bersifat softskill seperti pola pikir dan motivasional, serta hardskill seperti tekhnik menjual dan product knowledge juga telah sering dilakukan.
Tenaga penjual yang sukses adalah bukan hanya tenaga penjual yang mampu menjual barang dalam kuantitas yang besar, tetapi juga mampu menjalin hubungan dan komunikasi yang berkualitas dengan pelanggannya. Seringkali keputusan membeli konsumen dilakukan bukan karena pertimbangan rasional tetapi lebih karena pertimbangan emosional, termasuk kesan yang baik dari si tenaga penjual. Demikian pula sebaliknya. Bahkan penulis sempat menemui beberapa kasus perpindahan customer dari satu brand ke brand lainnya, hanya karena si salesman yang bersangkutan pindah pekerjaan.
Ditengah persaingan yang semakin ketat seperti saat ini, sudah semestinya pihak perusahaan dan tenaga penjual itu sendiri menyadari peranan tenaga penjual sangatlah luar biasa pentingnya. Tenaga penjual bukan lagi merupakan suatu sosok yang inferior yang hanya menawarkan suatu barang kepada pelanggan yang lebih superior, melainkan berperan sebagai "problem solver" yang menawarkan sesuatu yang bermanfaat bagi konsumen.
Nah sudahkah mental seperti ini ada di diri anda dan perusahaan anda ?
Sunday, January 13, 2013
Cerdas Emosi Salah Satu Kunci Keberhasilan Orang Orang Sukses
Konsep mengenai Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosi) mulai terkuak di permukaan setelah Daniel Goleman, seorang psikolog dan penulis menerbitkan buku yang berjudul Emotional Intelligence pada tahun 1995. Buku yang sempat menjadi best seller ini merupakan hasil riset dirinya selama beberapa tahun, menekankan bahwa Emotional Intelligence memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan karir seseorang, bahkan EI dikatakannya lebih mampu mendongkrak karir seseorang ketimbang IQ.
Simak tuntas mengenai Konsep kecerdsasan emosi di blog ini pada akhir Januari 2013.
Simak tuntas mengenai Konsep kecerdsasan emosi di blog ini pada akhir Januari 2013.
Subscribe to:
Posts (Atom)